Monthly Archives: March 2015

Kebanggaan Berbahasa Tanggung

Pada suatu acara masak-masak di saluran TV lokal, sang koki yang berparas melayu oriental dan beraksen nusantara tulen memandu pemirsa membuat lasagna jamur. “Now, setelah olive oil, kita tambahkan salt. Okay, lasagna kita udah ready. Kita masukin cengkeh, pepper, bailey…. Kita melt butternya sekarang…”

Untuk orang yang baik hati dan tidak nyinyir, sekilas tidak ada yang salah dengan tayangan ini. Tapi sebagian kecil populasi mungkin ingin ikut berkomentar, “I feel gatal. Let’s siram the mas koki with air keras karena he doesn’t speak Bahasa Indonesia properly.” Baiklah, baiklah. Bukan sebagian kecil populasi. Itu saya saja yang nyinyir.

Tapi sesungguhnya, ini amat menyedihkan. Berdasarkan pengamatan selama ini, sepertinya rakyat Indonesia terjangkit sindroma kebanggaan berbahasa tanggung. Artinya, kemampuan bahasa internasionalnya tidak istimewa, sementara bahasa resminya sendiri masih belepotan, namun ada kebanggaan jika bisa mencampuradukkan penggunaannya dalam percakapan sehari-hari.

Kalau mau introspeksi diri, kita terkesan tidak terlalu menghormati Bahasa Indonesia. Ini paling mudah dilihat dari penggunaan tata bahasa dalam tulisan.

Gambar 1: “Rumah dikontrakan”. Memangnya dia salah apa?
Gambar 2: “Semoga di maklumi”. Di manakah maklumi berada?
Gambar 3: “Jangan! Buang sampah disini”.  Ini perlu ‘di maklumi’ juga?

Contoh-contoh kasus ini masih bisa dimaafkan. Mungkin saja penulisnya tidak lulus SD, sehingga tidak tahu hukum imbuhan, kata sambung, dan penggunaan tanda baca. Tapi tidak jarang kita jumpai kalimat yang tata bahasanya ngawur dalam surat edaran resmi setingkat perguruan tinggi atau bahkan kementerian.

Di sisi lain, belajar bahasa asing khususnya Bahasa Inggris itu sangat penting. Tapi haruskah penggunaannya dicampur-campur dengan bahasa Indonesia? Pada suasana informal, mungkin tidak terlalu masalah. Misalnya ngobrol dengan teman, komentar di media sosial, dan sebagainya. Tapi bagaimana dengan forum yang efek edukasinya pada masyarakat lebih luas? Berapa kali Anda mendengar pewarta berita menggunakan kalimat yang secara tata bahasa tidak benar?

Acara masak seperti yang saya tonton itu mungkin juga tergolong kasual. Tapi imbasnya bagi masyarakat cukup besar. Kita jadi tidak dipaksakan untuk berbahasa dengan benar. Malah dibiasakan pada persepsi bahwa berbahasa tanggung itu lebih keren. Lama-lama akibatnya terasa dalam dunia akademis. Kaum yang harusnya terpelajar seperti mahasiswa sampai guru besar universitas masih banyak yang tidak dapat menulis dalam Bahasa Indonesia yang baku, baik, dan benar. Saya jadi ingat, waktu sekolah dulu pun, nilai rapor saya untuk Bahasa Indonesia tidak pernah lebih tinggi daripada Bahasa Inggris karena aturannya kurang konsisten dan lebih sulit diterapkan dalam penggunaan sehari-hari. Mungkin pembaca bisa berbaik hati membantu saya mengoreksi kesalahan tata bahasa dalam artikel ini.

Kecintaan seseorang terhadap bangsanya dimulai dari hal-hal kecil. Saya rasa ada baiknya kita mulai mencoba berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Setidaknya dalam dunia tulis menulis. Mudah-mudahan dengan begitu, nasionalisme bangsa Indonesia bisa tumbuh lebih besar dan lebih kuat.

Advertisements
Categories: Daily Rambler, Occasional Writer | Tags: | 1 Comment

Create a free website or blog at WordPress.com.