Monthly Archives: November 2016

If we have a fight

Dear Son,

There will come the days when you follow my advice not because you think I’m right, but because you’re just too tired to argue.

Especially in the next 30 years, maybe, I would be one of those old people who are illogical and my words do not always make sense to you. And I’m your parent, so you will most likely be fed up having a fight with me. Even if I’m right, often it will be difficult for you to agree with my opinions. While at other times, I’m just simply mistaken and you’re aware of it.

Maybe those are merely trivial cases, so your wise mind knows that it’s not worth fighting for. But if you are like me, you enjoy winning an argument. So this situation can drive you nuts because it disturbs your sanity knowing that something is not relevant to your knowledge but you cannot do anything because you don’t want to hurt me.

If that ever happens, Son, please forgive me.

Don’t hate me. Because I might be doing that only because I care so much about you.

Understand me. Because we might have different perspectives.

Try my words. Because I could be correct.

Use kind words. Because the older I am, the more sensitive I might become.

And most importantly, be patient to me. Much, much more patient that I am to your grandparents today. They are lovely people. So lovely that each time we argue, it makes me regret having to be impatient and make them sad. But you have half of your father’s serenity. I know you are not gonna repeat my mistake.

Anyway, just in case it works, show me this message.

So I will remember how it feels to be in your position.

With so much love and precautions,

Mother

Categories: Awkward Mother, Uncategorized | Leave a comment

About your old man

Dear Son,

I just want you to know that your father is a very, very, very kind person.

Mother

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

“…Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja). Tetapi…”

Hari ini saya membuka newsfeed FB dan belajar banyak hal.

Untuk Pak Ahok, terima kasih atas kerja keras Bapak selama ini. Saya pun sering setuju dengan prinsip-prinsip Bapak. Jujur saya merasakan banyak perubahan positif di Jakarta selama masa pemerintahan Bapak. Sebagai manusia, tentu ada hal yang saya kurang suka dari Bapak, antara lain kebiasaan Pak Ahok menggunakan majas totem pro parte (eh bener kan ya?), di forum publik. Bapak kerap menggeneralisasi suatu kelompok atas perilaku negatif sebagian oknum. Terhadap rekan anggota dewan dan profesi medis, misalnya. Mungkin masih ingat? Begitu juga dengan orang yang menggunakan ayat Al-Maidah 51, tidak semuanya berniat mempolitisasi ayat. Sebagian mungkin memang tulus menyampaikan pemahamannya, sesuai tafsir dan ulama yang menjadi referensinya. Nah kali ini Pak Ahok bisa belajar dari kesalahan untuk lebih berhati-hati menjaga lisan. Umat Muslim sudah menunjukkan sikap. Bapak sudah minta maaf. Islam yang saya pahami mengajarkan penghormatan terhadap Sang Pencipta sekaligus cinta kasih, prasangka baik, dan pengampunan terhadap sesama. Jadi saya tulus memaafkan Pak Ahok. Semoga Bapak bisa membawa lebih banyak kebaikan bagi Jakarta dan Indonesia.

Untuk teman-teman agama lain, terima kasih atas hubungan baik selama ini. Semoga kita bisa tetap rukun ya. Mohon maaf kalau pernah/sering melihat umat Muslim yang keras dan bersikap memusuhi sampai membuat kalian tidak nyaman. Sungguh, masih lebih banyak kok, Muslim yang cinta damai. Mudah-mudahan kalian tidak balik memusuhi dan termakan hasutan media provokatif.

Untuk teman-teman sesama Muslim yang ikut atau mendukung demo 411 maupun yang tidak, terima kasih atas kerjasama kalian kemarin. Semoga kita semua bisa selalu menjaga kehormatan Islam sekaligus perdamaian bangsa ya. Kita wajib saling mengingatkan, tapi perlukah menghujat pemahaman yang berbeda? Kita ingin Islam dikenal sebagai rahmatan lil alamin bukan? Rasulullah SAW  mengutamakan cara berdakwah yang simpatik. Sayang sekali jika ajaran Islam tidak tersebar dengan baik ke seluruh umat manusia karena kita sibuk menyerang golongan lain, dan bahkan sesama Muslim, hingga lupa menjaga citra Islam yang sesungguhnya. Mari bersama-sama introspeksi. Kalau sampai kelakuan kita membuat orang berburuk sangka terhadap Islam, tidakkah itu berarti kita sedang menistakan agama sendiri?

img-20161105-wa0002

Kemudian, ketika kita hendak sekedar nyinyir atau bahkan memutus silaturahmi (unfollow/unfriend/socmed war) dengan teman/kerabat karena perbedaan paham, ada baiknya kita mengingat QS Al-Maidah 48, Hud 118, An-Nahl 93 dan As-Syuura 8. Ayat-ayat ini mungkin tidak sekekinian Al-Maidah 51. Mungkin juga saya salah memahami (mohon koreksinya). Tapi cukup ampuh untuk mengingatkan saya bahwa perbedaan itu memang ada dan kebenaran sejati hanya milik Allah SWT.

Kalau ulama saja bisa berbeda tafsir dan pendapat, apalagi kita umat biasa, bukan? Semoga kita bisa terus belajar dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Seperti yang disampaikan dalam Al-Quran, kitab suci yang sangat kita cintai ini.

Sampaikan atau diam?

Kita diserukan untuk menyerukan ajaran Allah. Baik kepada saudara sesama Muslim maupun agama lain. “Sampaikanlah walau hanya satu ayat”, begitu kata salah satu hadis favorit kita. Di sisi lain, yang menentukan kebenaran itu hanya Allah SWT. Jadi, ketika kita berselisih paham, bisa saja kan apa yang kita yakini benar itu ternyata salah? Saya juga orangnya nyinyir berat. Selama ini, kalau ada yang saya nggak sreg pasti gatal ingin komen. Tapi sekarang, setiap mau nyinyir, jadi agak mikir-mikir lagi, “Wah belum tentu nih pemahaman eke bener”. Malu juga sama anak, kalau udah emak-emak begini masih doyan rusuh di status FB.

Di sisi lain, kita punya akal sehat dan nurani. Jadi kalau ada ilmu yang nggak disampaikan ke orang-orang yang kita peduli, rasanya berdosa. Pasti teman-teman pernah mengalami dilema serupa kan? Nah sekarang coba deh bandingkan ketiga pernyataan ini.

1. “Ini lho ada ayat ini. Tafsirnya begini. Kurang jelas apa lagi sih? Kalau tidak sepemahaman dengan ini kamu jelas salah. Iman kamu dipertanyakan. Kamu bukan Islam, tapi kaum munafik yang tidak cinta pada Allah. Mending diam saja tidak usah berpendapat!”

2. “Ini lho ada ayat ini. Tafsirnya begini. Makanya belajar Islam yang bener. Otak itu dipake. Yang bikin malu Islam tuh orang-orang radikal kayak kalian. Kalau tidak bisa terima perbedaan, sana tinggal di gurun aja!” 

3. “Ini lho ada ayat ini. Tafsirnya begini. Saya memahaminya begini. Mudah-mudahan benar ya. Tolong dikoreksi kalau saya salah. Oh gitu ya? Ok deh kalau ternyata masih berbeda ya semoga kita ditunjukkan Allah mana yang benar. Nah tuh ada abang gorengan lewat. Saya traktir cireng deh.”

Mana yang lebih ingin kita dengar? 🙂

Semoga saya nggak dibully dan semoga Allah SWT membimbing kita semua.

Salam,

Yang ngarep dibeliin cireng

Categories: Daily Rambler | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.