Daily Rambler

“Malin, ini Mama, Nak.. Mama tidak minta pulsa..”

Anakku sayang,

Kalau kamu sekolah nanti, mungkin legenda Malin Kundang yang diceritakan Bu Guru di sekolah akan sedikit berbeda dengan versi yang dibuat oleh Butopik Production House.

Begini sebagian cuplikannya:

 

Scene 91823 – take 1:

@MamanyaMalin tidak langsung baper dan mengutuk anaknya jadi batu. Sebagai supermom-slash-single mother-slash-womenpreneur teladan yang berwawasan luas serta tidak mudah termakan hoax dan menyebarkan hate speech di akun Facebooknya, dia memang kesal dan sakit hati, tapi tetap mampu stay cool agar bisa introspeksi diri.

“Duh itu anak kok jadi kurang ajar ya.. Hmmmm.. Tapiiii, yah, bisa saja kan dia memang salah orang? Mungkin ini salahku karena tidak rajin memakai krim antiaging dan tabir surya SPF 30 sehingga keriput dan noda hitam akibat sinar matahari membuat wajahku jauh berubah dan sulit dikenali. Apalagi zaman sekarang saja banyak penipuan bermodus keluarga. Ngaku-ngaku mama, ternyata ujung-ujungnya minta pulsa. Mungkin saja dia hanya bersikap waspada. Baiklah, aku akan klarifikasi lebih lanjut!”

 

Scene 91825 – take 4:

@MamanyaMalin mengirimkan DM ke akun Twitter dan Instagram @Maleen_K_2016 untuk tabayyun, seperti dalam ajaran agama yang dianutnya. Dia hanya ingin klarifikasi apakah ada kesalahpahaman. Apakah anaknya mengira dia orang asing yang berniat menipu. Ternyata tidak, @Maleen_K_2016 memang durhaka. Dia memang malu mengakui asal-usulnya, karena #OOTD ibunya saat itu tidak sebagus Memo @aniyudhoyono dan kulitnya tidak sekencang kulit mamanya Ricky Harun.

 

Scene 91826 – take 1:

@MamanyaMalin sangat terpukul. Beberapa orang dari girl gangnya menyarankan agar ia mengancam anak itu untuk mengutuknya menjadi batu. Namun @MamanyaMalin tidak terhasut. Dia ingin mendidik anaknya dengan kasih sayang, bukan intimidasi. Kemudian berdoalah dia pada Allah SWT. “Ya Allah, ampunilah dosa hamba jika hamba salah mengasuh anak hamba hingga menjadi umatmu yang durhaka. Ampunilah anak hamba @Maleen_K_2016 dan berikan petunjuk agar tidak lagi membuat username alay dan sadarkanlah ia agar kembali ke jalan yang benar. Jadikanlah ia anak yang saleh dan izinkan kami menikmati mother-and-son quality time bersama, baik di dunia dan di akhirat. Amiiinn.”

 

Scene 91829 – take 2:

Tetiba @Maleen_K_2016 merasakan ada hidayah yang mengalir dalam kalbunya. Tanpa menempuh jalur hukum dan tes DNA, ia segera mencari ibunya. Ia meminta maaf sambil menangis. Dengan penuh haru, @MamanyaMalin memaafkan anaknya. Akhir kata, Malin Kundang mengganti usernamenya serta menjadi anak saleh yang rajin mendoakan ibunya sehingga sang ibu mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Cerita ini berakhir bahagia dengan win-win solution bagi kedua belah pihak.

**

Drama antiklimaks ini sebetulnya lebih cocok didedikasikan untuk eyang putrimu, yang telah mengajarkan Mama tentang kasih ibu yang, ehm, agak lebih masuk akal. Setidaknya bagi Mama.

Kasih ibu yang pemaaf.

Kasih ibu yang rasional.

Kasih ibu yang tidak main kutuk-kutukan.

Kurang lebih demikian.

Mungkin selamanya Mama tidak akan bisa menjadi ibu sebaik Eyang Putri.

***

 

“Kalo aku durhaka kayak Malin Kundang, apa Ibu juga bakal ngutuk aku jadi batu?”

“Nggak lah. Ibu omelin aja. Trus kalo nggak mempan ya didoain supaya kamu insyaf dan tobat.”

(percakapan Mama dengan Eyang Putri sekitar 20 tahun lalu)

****

I don’t deserve a Mother’s Day yet. So, Selamat Hari Eyang.

 

Categories: Awkward Mother, Daily Rambler | Leave a comment

“…Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja). Tetapi…”

Hari ini saya membuka newsfeed FB dan belajar banyak hal.

Untuk Pak Ahok, terima kasih atas kerja keras Bapak selama ini. Saya pun sering setuju dengan prinsip-prinsip Bapak. Jujur saya merasakan banyak perubahan positif di Jakarta selama masa pemerintahan Bapak. Sebagai manusia, tentu ada hal yang saya kurang suka dari Bapak, antara lain kebiasaan Pak Ahok menggunakan majas totem pro parte (eh bener kan ya?), di forum publik. Bapak kerap menggeneralisasi suatu kelompok atas perilaku negatif sebagian oknum. Terhadap rekan anggota dewan dan profesi medis, misalnya. Mungkin masih ingat? Begitu juga dengan orang yang menggunakan ayat Al-Maidah 51, tidak semuanya berniat mempolitisasi ayat. Sebagian mungkin memang tulus menyampaikan pemahamannya, sesuai tafsir dan ulama yang menjadi referensinya. Nah kali ini Pak Ahok bisa belajar dari kesalahan untuk lebih berhati-hati menjaga lisan. Umat Muslim sudah menunjukkan sikap. Bapak sudah minta maaf. Islam yang saya pahami mengajarkan penghormatan terhadap Sang Pencipta sekaligus cinta kasih, prasangka baik, dan pengampunan terhadap sesama. Jadi saya tulus memaafkan Pak Ahok. Semoga Bapak bisa membawa lebih banyak kebaikan bagi Jakarta dan Indonesia.

Untuk teman-teman agama lain, terima kasih atas hubungan baik selama ini. Semoga kita bisa tetap rukun ya. Mohon maaf kalau pernah/sering melihat umat Muslim yang keras dan bersikap memusuhi sampai membuat kalian tidak nyaman. Sungguh, masih lebih banyak kok, Muslim yang cinta damai. Mudah-mudahan kalian tidak balik memusuhi dan termakan hasutan media provokatif.

Untuk teman-teman sesama Muslim yang ikut atau mendukung demo 411 maupun yang tidak, terima kasih atas kerjasama kalian kemarin. Semoga kita semua bisa selalu menjaga kehormatan Islam sekaligus perdamaian bangsa ya. Kita wajib saling mengingatkan, tapi perlukah menghujat pemahaman yang berbeda? Kita ingin Islam dikenal sebagai rahmatan lil alamin bukan? Rasulullah SAW  mengutamakan cara berdakwah yang simpatik. Sayang sekali jika ajaran Islam tidak tersebar dengan baik ke seluruh umat manusia karena kita sibuk menyerang golongan lain, dan bahkan sesama Muslim, hingga lupa menjaga citra Islam yang sesungguhnya. Mari bersama-sama introspeksi. Kalau sampai kelakuan kita membuat orang berburuk sangka terhadap Islam, tidakkah itu berarti kita sedang menistakan agama sendiri?

img-20161105-wa0002

Kemudian, ketika kita hendak sekedar nyinyir atau bahkan memutus silaturahmi (unfollow/unfriend/socmed war) dengan teman/kerabat karena perbedaan paham, ada baiknya kita mengingat QS Al-Maidah 48, Hud 118, An-Nahl 93 dan As-Syuura 8. Ayat-ayat ini mungkin tidak sekekinian Al-Maidah 51. Mungkin juga saya salah memahami (mohon koreksinya). Tapi cukup ampuh untuk mengingatkan saya bahwa perbedaan itu memang ada dan kebenaran sejati hanya milik Allah SWT.

Kalau ulama saja bisa berbeda tafsir dan pendapat, apalagi kita umat biasa, bukan? Semoga kita bisa terus belajar dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Seperti yang disampaikan dalam Al-Quran, kitab suci yang sangat kita cintai ini.

Sampaikan atau diam?

Kita diserukan untuk menyerukan ajaran Allah. Baik kepada saudara sesama Muslim maupun agama lain. “Sampaikanlah walau hanya satu ayat”, begitu kata salah satu hadis favorit kita. Di sisi lain, yang menentukan kebenaran itu hanya Allah SWT. Jadi, ketika kita berselisih paham, bisa saja kan apa yang kita yakini benar itu ternyata salah? Saya juga orangnya nyinyir berat. Selama ini, kalau ada yang saya nggak sreg pasti gatal ingin komen. Tapi sekarang, setiap mau nyinyir, jadi agak mikir-mikir lagi, “Wah belum tentu nih pemahaman eke bener”. Malu juga sama anak, kalau udah emak-emak begini masih doyan rusuh di status FB.

Di sisi lain, kita punya akal sehat dan nurani. Jadi kalau ada ilmu yang nggak disampaikan ke orang-orang yang kita peduli, rasanya berdosa. Pasti teman-teman pernah mengalami dilema serupa kan? Nah sekarang coba deh bandingkan ketiga pernyataan ini.

1. “Ini lho ada ayat ini. Tafsirnya begini. Kurang jelas apa lagi sih? Kalau tidak sepemahaman dengan ini kamu jelas salah. Iman kamu dipertanyakan. Kamu bukan Islam, tapi kaum munafik yang tidak cinta pada Allah. Mending diam saja tidak usah berpendapat!”

2. “Ini lho ada ayat ini. Tafsirnya begini. Makanya belajar Islam yang bener. Otak itu dipake. Yang bikin malu Islam tuh orang-orang radikal kayak kalian. Kalau tidak bisa terima perbedaan, sana tinggal di gurun aja!” 

3. “Ini lho ada ayat ini. Tafsirnya begini. Saya memahaminya begini. Mudah-mudahan benar ya. Tolong dikoreksi kalau saya salah. Oh gitu ya? Ok deh kalau ternyata masih berbeda ya semoga kita ditunjukkan Allah mana yang benar. Nah tuh ada abang gorengan lewat. Saya traktir cireng deh.”

Mana yang lebih ingin kita dengar? 🙂

Semoga saya nggak dibully dan semoga Allah SWT membimbing kita semua.

Salam,

Yang ngarep dibeliin cireng

Categories: Daily Rambler | Leave a comment

Because we don’t have Indonesian Grammar Day

Dear Son,

Look at this picture. This is too embarrassing.

I don’t want you to grow up to be some kind of adult who does this.

Please don’t write this way.

20160325_073340-01

Because when you’re indicating preposition of place or referring to a certain location, “DI” and “a place name” should be separated by a space.

It should be DI AREA.

Not DIAREA.

I’m sorry to inform you that I’m no expert in my native language. There are many rules in Bahasa Indonesia that I might not be aware of. But I keep trying to learn them and even when I do, I still make a lot of mistakes too.

So you should learn better. At least don’t belittle Indonesian grammar. It seems that we don’t make a big deal about this. And it’s actually sad.

When you grow up, you will meet people who don’t care about kata sambung, imbuhan, and EYD. That may include your coworkers, teachers, bosses, or even VIPs who are considered academically smart. They won’t notice that you put extra effort on doing the right thing. Some may laugh at you for being too pedantic. And they will think you’re weird.

But that’s okay, Son. It is small. But I believe it’s important to respect our own language. With the our public tendency to use non-formal or foreign words, it’s hard to do so. I don’t use formal Indonesian in daily chats and casual writings either. Often I write in English too. But Sweetheart, if you happen to be doing something official, please choose the proper way. Ask someone legitimate. Open your dictionary. Google search. Whatever attempts you can do.

Today is September 8th and we don’t have Indonesian Grammar Day. Nobody bothers to celebrate such thing. So, happy International Literacy Day, Son. It’s vital to be literate. And it is best to be properly literate.

Mother

 

P.S. Oh, and the smaller words written in red paint below? Yeah those are dirty words. Don’t write them in public.

Categories: Awkward Mother, Daily Rambler, Occasional Writer | Leave a comment

Remind me about the words of appreciation

Dear Son,

There are times when a husband would voluntarily open his mouth to say something just to piss his wife off. Mine does too. But there are times though, when he unexpectedly comes up with a few words that truly make my day.

Now bear this in your mind. Because if one day you decide to get married, this is the kind of unusual yet magic words that could melt your wife’s heart, and keep her from scolding you (at least for 1×24 hours). She will even cook you your favorite dish (in your father’s case, it’s Indomie with extra extra EXTRA Boncabe). And more importantly, she will be thankful for having you as her husband.

Sometime recently, he told me this:

“Housewife chores are extremely hard. I only replace your task for 6 hours today and I don’t think I can ever manage to swap roles. I would rather spend hours at the office than do whatever it is that you do everyday. It’s just.., too hard.”

I’m pretty sure he didn’t mean to make compliments or intentionally created such strategy to get his Boncabe Indomie. He just made a comment out of his own experience. But to me, it sounded like a wonderful appreciation.

With digital wars these days between working mothers vs stay-at-home mothers feat. ustadz ibukota feat. unmarried netizens who think they know everything about marriage, and with daily judgmental comments from people around us, starting a family is highly challenging. You barely escape a day without being criticized for your life choices, parenting values, and even relationship style. I’m not telling you to ignore that because you need evaluation to improve yourself. But it is not always easy on the ear and it can drive you crazy. So you should always remember that what matters the most is what your partner thinks about you.

I tell you Son, I see old couples these days tend to take their spouse for granted. They hate, they disrespect, and are fed up with each other. I don’t want that but who knows what will happen to us in the future? So maybe, if 30 years later he becomes so annoying that I want to throw a brick at him (or vice versa), please do us a favor. Remind him that sometime in 2016 he used to appreciate me this much. And remind me too about how much it ever meant to me.

 

Mother

Categories: Awkward Mother, Daily Rambler | Leave a comment

Kebanggaan Berbahasa Tanggung

Pada suatu acara masak-masak di saluran TV lokal, sang koki yang berparas melayu oriental dan beraksen nusantara tulen memandu pemirsa membuat lasagna jamur. “Now, setelah olive oil, kita tambahkan salt. Okay, lasagna kita udah ready. Kita masukin cengkeh, pepper, bailey…. Kita melt butternya sekarang…”

Untuk orang yang baik hati dan tidak nyinyir, sekilas tidak ada yang salah dengan tayangan ini. Tapi sebagian kecil populasi mungkin ingin ikut berkomentar, “I feel gatal. Let’s siram the mas koki with air keras karena he doesn’t speak Bahasa Indonesia properly.” Baiklah, baiklah. Bukan sebagian kecil populasi. Itu saya saja yang nyinyir.

Tapi sesungguhnya, ini amat menyedihkan. Berdasarkan pengamatan selama ini, sepertinya rakyat Indonesia terjangkit sindroma kebanggaan berbahasa tanggung. Artinya, kemampuan bahasa internasionalnya tidak istimewa, sementara bahasa resminya sendiri masih belepotan, namun ada kebanggaan jika bisa mencampuradukkan penggunaannya dalam percakapan sehari-hari.

Kalau mau introspeksi diri, kita terkesan tidak terlalu menghormati Bahasa Indonesia. Ini paling mudah dilihat dari penggunaan tata bahasa dalam tulisan.

Gambar 1: “Rumah dikontrakan”. Memangnya dia salah apa?
Gambar 2: “Semoga di maklumi”. Di manakah maklumi berada?
Gambar 3: “Jangan! Buang sampah disini”.  Ini perlu ‘di maklumi’ juga?

Contoh-contoh kasus ini masih bisa dimaafkan. Mungkin saja penulisnya tidak lulus SD, sehingga tidak tahu hukum imbuhan, kata sambung, dan penggunaan tanda baca. Tapi tidak jarang kita jumpai kalimat yang tata bahasanya ngawur dalam surat edaran resmi setingkat perguruan tinggi atau bahkan kementerian.

Di sisi lain, belajar bahasa asing khususnya Bahasa Inggris itu sangat penting. Tapi haruskah penggunaannya dicampur-campur dengan bahasa Indonesia? Pada suasana informal, mungkin tidak terlalu masalah. Misalnya ngobrol dengan teman, komentar di media sosial, dan sebagainya. Tapi bagaimana dengan forum yang efek edukasinya pada masyarakat lebih luas? Berapa kali Anda mendengar pewarta berita menggunakan kalimat yang secara tata bahasa tidak benar?

Acara masak seperti yang saya tonton itu mungkin juga tergolong kasual. Tapi imbasnya bagi masyarakat cukup besar. Kita jadi tidak dipaksakan untuk berbahasa dengan benar. Malah dibiasakan pada persepsi bahwa berbahasa tanggung itu lebih keren. Lama-lama akibatnya terasa dalam dunia akademis. Kaum yang harusnya terpelajar seperti mahasiswa sampai guru besar universitas masih banyak yang tidak dapat menulis dalam Bahasa Indonesia yang baku, baik, dan benar. Saya jadi ingat, waktu sekolah dulu pun, nilai rapor saya untuk Bahasa Indonesia tidak pernah lebih tinggi daripada Bahasa Inggris karena aturannya kurang konsisten dan lebih sulit diterapkan dalam penggunaan sehari-hari. Mungkin pembaca bisa berbaik hati membantu saya mengoreksi kesalahan tata bahasa dalam artikel ini.

Kecintaan seseorang terhadap bangsanya dimulai dari hal-hal kecil. Saya rasa ada baiknya kita mulai mencoba berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Setidaknya dalam dunia tulis menulis. Mudah-mudahan dengan begitu, nasionalisme bangsa Indonesia bisa tumbuh lebih besar dan lebih kuat.

Categories: Daily Rambler, Occasional Writer | Tags: | 1 Comment

Republik Fotokopi Rangkap Tiga

Beberapa tahun terakhir ini saya banyak berurusan dengan birokrasi intansi pemerintahan. Mulai dari mengurus surat izin praktik (SIP) dokter, kunjungan puskesmas, perpanjangan paspor, sampai izin mendirikan bangunan (IMB).

Pelajaran yang dapat dipetik adalah:

Image

Birokrasi kita memang terkenal “ribet”. Jangan salah. Saya sering dilayani oleh petugas yang baik dan cekatan, tapi memang sistemnya mengharuskan kita bolak-balik ke kantor kelurahan/kecamatan/walikota/dsb untuk mengurus dokumen yang biasanya diproses secara manual atau dengan sistem online setengah matang. Saya paham bahwa birokrasi itu dibuat demi keteraturan. Jadi kalau segala keribetan itu mampu menghasilkan lebih banyak manfaat daripada mudaratnya, masih bisa diterima.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, keribetan ini, selain memakan waktu, juga tidak ramah lingkungan. Bolak-balik mengurus dokumen dengan kendaraan bermotor tentu menambah polusi. Istilahnya: eco-mudarat. Selain polusi, ada aspek lain yang lebih menarik sini. Yaitu kecenderungan menggunakan kertas.

Berdasarkan pengalaman pribadi, inilah kalimat-kalimat yang paling khas dari petugas instansi pemerintahan:

Image

Sedikit-sedikit fotokopi. Buat arsip ini buat arsip itu. Semuanya harus pakai kertas. Kertas. Kertas. Kertas.

Aneh sekali. Seperti kaum yang tidak tersentuh teknologi. Kalau masalahnya menjaga otentisitas dokumen, email attachment lebih tidak bisa diutak-atik. Kalau butuh salinan, kenapa tidak disimpan dalam bentuk softcopy PDF yang siap cetak? Memangnya seberapa sering kita butuh melihat salinan arsip? Kalau memang takut hilang karena diretas orang jahat, ya sekarang tumpukan kertas arsip itu juga rentan hilang, terendam banjir, kebakaran, atau dikencingi tikus.

Ketika dunia sudah semakin sadar akan kebijakan paperless sebagai salah satu upaya melestarikan lingkungan (lihat catatan Greenpeace tentang resolusi hijau tahun 2014), saya lihat pemerintah masih belum bisa menjadi teladan warga untuk menerapkan perilaku go green. Efeknya, masyarakat jadi tidak terbiasa mengasosiasikan perilaku sehari-hari dengan nasib hutan kita. Kita sering lupa bahwa bahan baku utama kertas dan tisu adalah kayu-kayu berkualitas serat tinggi seperti ramin yang juga berasal dari hutan Indonesia.*

Bagi sebagian besar kita, sepertinya tidak ada masalah dengan itu semua. Kita toh tidak membakar hutan, tidak melakukan illegal logging, tidak membuka lahan sawit. Kita hanya ngeprint, fotokopi, ngeprint, fotokopi. Paling berapa lembar sih?

Tidak banyak memang. Tapi semakin banyak orang yang berpikir demikian, semakin besar kebutuhan akan kertas, dan semakin banyak pohon yang harus ditebang. Nah, masalahnya, tidak semua produsen kertas menerapkan sistem yang forest-friendly.

***

Mulai dari hal kecil. Semampu kita.

Sebetulnya tidak perlu menunggu pemerintah untuk melakukan hal-hal yang baik. Kita bisa selalu mulai dengan hal-hal kecil, dari diri sendiri. Klise, tapi itu benar. Dalam hal pelestarian bumi, selalu ada kontribusi seremeh apa pun yang dapat kita berikan. Terkait pelestarian hutan, mungkin kita tidak dalam posisi yang berwenang untuk melakukan reboisasi, tebang pilih, atau memantau kinerja produsen pulp. Namun masih ada cara lain yang lebih mudah dilakukan. Di antaranya dengan menghemat penggunaan kertas dan produk-produk kayu, tak peduli dari perusahaan mana ia berasal. Misalnya:

  • Kalau membuat tugas kuliah, cetaklah pada kedua sisi halamannya. Apalagi kalau masih draf. Selain lebih murah, juga supaya tidak miris kalau berakhir demikian:

Image

  • Untuk pekerjaan sehari-hari, gunakan kertas bekas yang hanya terpakai pada satu sisinya untuk mencetak dokumen informal. Bahkan jika tidak perlu sekali, tidak usahlah dicetak segala. Optimalkan fungsi tablet. Jangan hanya untuk main flepi bird.
  • Kurangi pemakaian produk kayu lain seperti kantong, tisu, dan sumpit sekali pakai. Sering kali karena gratis, kita diberi atau bahkan meminta tambahan sumpit atau tisu di restoran, yang ternyata tidak dipakai.
  • Menularkan kesadaran itu ke lingkungan sekitar kita. Bisa ke orang-orang terdekat atau lewat sosial media. Banyak orang yang merusak lingkungan bukan karena mereka ingin, namun karena mereka tidak sadar. Misalnya dengan ikut lomba blog Hutan Kita dengan tema Protect Paradise dari Greenpeace ini. Hampir tidak keluar biaya dan kalau menang hadiahnya jalan-jalan ke hutan ketemu monyet! 😀

Kita tidak bisa hidup tanpa kertas. Yang bisa kita lakukan adalah menggunakannya dengan bijak. Poin-poin di atas sudah bukan barang baru. Tapi entah kenapa belum semua orang mengamalkannya.

Tidak perlu menunggu pemerintah. Tidak perlu menunggu siapa-siapa. Mungkin kita ragu bahwa aksi kecil kita ini akan ada gunanya. Tapi saya percaya bahwa akumulasi hal-hal kecil dapat menghasilkan sesuatu yang besar. Dan jika hal kecil itu bisa menyelamatkan hutan kita, apa alasan kita tidak melakukannya? 🙂

 

 

 

 

*) Untuk informasi lebih lengkap, silakan kunjungi website Greenpeace atau klik link berikut.

http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/melindungi-hutan-alam-terakhir/app1/ramin/

http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/resolusi-hijau-untuk-tahun-baru-2014/blog/47794/

http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/APP-kertas-moratorium/blog/40593/

Categories: Daily Rambler, Occasional Writer | Tags: , , | 3 Comments

Tuesday Thinking

There are three main reasons why people don’t appreciate your existence.

1) You are not good enough
2) They take you for granted
3) They simply don’t need you

This is a tricky area where you need to be able to tell the difference. Once you know which case you are in, then you get to decide whether you want to:

1) Improve and make yourself better
2) Tolerate for some time
3) Walk away from their life forever

Normally you would start from no.1 until you become better so that they acknowledge how good you are. lt’s all for your own sake and the advantage is definitely on you. Well, perhaps on them too. So this is most likely a win-win solution.

Then it’s down to no.2. Because no matter how hard you try, you understand that even good people can be anal openings sometimes. They forget to appreciate you and treat you like crap. But you believe it’s ephemeral and you can still put up with them. In this case you can either stay there waiting patiently for a miracle, try to talk to them, or temporarily disappear to give them time to reflect. You tolerate. Until you can’t do it anymore.

Then when all the limits are crossed and you feel like you’ve had enough, perhaps it’s time to do some rethinking. Maybe it is the case no. 3 and thus you should act accordingly. If those people don’t need you in the first place, what in the world could make them deserve you? And if you can live without them, what makes you stay? 🙂

image

Categories: Daily Rambler | Leave a comment

Your intention is among the most important things.

So it better be good.

No matter what you do, no matter how you do it, you’ll find bumpy roads along the way.
You will encounter hardships and bad days.
You will face the fact that your plan A, B, and C didn’t work.
You can’t obtain everyone’s blessing and expect the universe to always have your back.

But that’s how you’ll ever learn why seatbelts are important.
That’s how you will appreciate every second you spend on good times.
That’s how you will discover another alphabet from the remaining 23 that may become your best plan.
And that’s why you seek Allah’s blessing, not anyone else’s.

Sometimes it’s your fear that gets in your way. And often it’s not necessary.

Crossroads don’t have to bring in confusion. Each path may lead to equal joy and sorrow. Why all the frustration on having to choose one of them?

You do a cautious math, listen to people well, and do what you think is right. If you know you’re doing a good deed, you know exactly what you have to do 🙂

Categories: Daily Rambler | Leave a comment

“Hate the Attitudes, Not the Person”

That’s what my mother keeps saying. Sounds simple but it’s not easy.

I remember my friends said they disliked someone because of her obnoxious attitudes. That one particular attitude was so obnoxious that they could not appreciate another list of good qualities in her. Everything she said or did became irrelevantly wrong, all the time.

Recently, I’ve been noticing that some colleagues used to show their abundant affection towards our new governor and vice governor, because of the fact that they brought in new changes, possessed clean and discipline images, etc. But recently, when Governor Jokowi created a policy that created troubles for health care providers and when Vice Governor Ahok made a-not-very-wise public statement about doctors and hospitals, these colleagues of mine flew into rage and spread hate comments on social media.*

I understand that Jokowi’s new policy is somewhat premature and potentially creating problems within the health system. I understand that Ahok shouldn’t be signaling a statement that negatively labels doctors and hospitals: that they are not pro poor people and that they don’t give standard service. I too, must say that this is unbelievably disheartening.

It’s as if they’re, especially Ahok, (perhaps unintentionally) inviting people to hate the whole population of doctors and health providers in Indonesia.

I have always wondered what the joy people find in hating others is. As well as attacking others, hurting others, and watching others suffer.

I don’t want people to hate all of us. I don’t deny that doctors with bad attitudes exist and that they should be disciplined. Yet there are doctors who do good practices. Who treat patients for free. Who are not paid and sometimes even pay for the patients’ medication. Who work for a 36-hours sleepless shift because there are too many patients to take care for. Who put patients’ needs ahead of their own. Who get sued for malpractices and defamed because patients’ family, NGOs, and media don’t understand Steven Johnson Syndrome.

But I rarely find media mention these facts a lot. Sure thing, because good news don’t sell.

People can choose to hate the bad doctors. Or even more ideally, the attitude of those bad doctors. But please, just be wise and don’t hate everyone in a white coat.**

I don’t want to hate the whole person of Jokowi and Ahok either. I voted for them and I have a lot of hopes and respect for them. I love that they are hardworking, and smart, and down to earth, and strict to any violation of laws, and Ahok is cute (wait what).

So people may hate bad attitudes of several doctors and hope that those attitudes would be fixed. And doctors may hate Jokowi-Ahok’s actions towards this particular issue and hope that those actions would be fixed.

Just because there are sweetened cherries that you don’t like on top of your cake, doesn’t mean the whole cake is not worth eating.***

 

 

 

 

*) Not to mention some other politicians’ judgmental statements. Well if you’re curious, just google these keywords: “Ribka Tjiptaning” “

**) For there are drugstore attendants who dress like doctors, but it’s out of context. I’m just trying to be funny here but only a few of you would get it.

***) This expression might only apply to me. I detest sweetened cherry (not the fresh ones). I would normally eat the base, icing, and every element of the cake but leave the cherries for someone else.

Categories: Daily Rambler, Doesn't Really Look Like A Doctor | 2 Comments

Blog at WordPress.com.