Occasional Writer

Because we don’t have Indonesian Grammar Day

Dear Son,

Look at this picture. This is too embarrassing.

I don’t want you to grow up to be some kind of adult who does this.

Please don’t write this way.

20160325_073340-01

Because when you’re indicating preposition of place or referring to a certain location, “DI” and “a place name” should be separated by a space.

It should be DI AREA.

Not DIAREA.

I’m sorry to inform you that I’m no expert in my native language. There are many rules in Bahasa Indonesia that I might not be aware of. But I keep trying to learn them and even when I do, I still make a lot of mistakes too.

So you should learn better. At least don’t belittle Indonesian grammar. It seems that we don’t make a big deal about this. And it’s actually sad.

When you grow up, you will meet people who don’t care about kata sambung, imbuhan, and EYD. That may include your coworkers, teachers, bosses, or even VIPs who are considered academically smart. They won’t notice that you put extra effort on doing the right thing. Some may laugh at you for being too pedantic. And they will think you’re weird.

But that’s okay, Son. It is small. But I believe it’s important to respect our own language. With the our public tendency to use non-formal or foreign words, it’s hard to do so. I don’t use formal Indonesian in daily chats and casual writings either. Often I write in English too. But Sweetheart, if you happen to be doing something official, please choose the proper way. Ask someone legitimate. Open your dictionary. Google search. Whatever attempts you can do.

Today is September 8th and we don’t have Indonesian Grammar Day. Nobody bothers to celebrate such thing. So, happy International Literacy Day, Son. It’s vital to be literate. And it is best to be properly literate.

Mother

 

P.S. Oh, and the smaller words written in red paint below? Yeah those are dirty words. Don’t write them in public.

Advertisements
Categories: Awkward Mother, Daily Rambler, Occasional Writer | Leave a comment

Kebanggaan Berbahasa Tanggung

Pada suatu acara masak-masak di saluran TV lokal, sang koki yang berparas melayu oriental dan beraksen nusantara tulen memandu pemirsa membuat lasagna jamur. “Now, setelah olive oil, kita tambahkan salt. Okay, lasagna kita udah ready. Kita masukin cengkeh, pepper, bailey…. Kita melt butternya sekarang…”

Untuk orang yang baik hati dan tidak nyinyir, sekilas tidak ada yang salah dengan tayangan ini. Tapi sebagian kecil populasi mungkin ingin ikut berkomentar, “I feel gatal. Let’s siram the mas koki with air keras karena he doesn’t speak Bahasa Indonesia properly.” Baiklah, baiklah. Bukan sebagian kecil populasi. Itu saya saja yang nyinyir.

Tapi sesungguhnya, ini amat menyedihkan. Berdasarkan pengamatan selama ini, sepertinya rakyat Indonesia terjangkit sindroma kebanggaan berbahasa tanggung. Artinya, kemampuan bahasa internasionalnya tidak istimewa, sementara bahasa resminya sendiri masih belepotan, namun ada kebanggaan jika bisa mencampuradukkan penggunaannya dalam percakapan sehari-hari.

Kalau mau introspeksi diri, kita terkesan tidak terlalu menghormati Bahasa Indonesia. Ini paling mudah dilihat dari penggunaan tata bahasa dalam tulisan.

Gambar 1: “Rumah dikontrakan”. Memangnya dia salah apa?
Gambar 2: “Semoga di maklumi”. Di manakah maklumi berada?
Gambar 3: “Jangan! Buang sampah disini”.  Ini perlu ‘di maklumi’ juga?

Contoh-contoh kasus ini masih bisa dimaafkan. Mungkin saja penulisnya tidak lulus SD, sehingga tidak tahu hukum imbuhan, kata sambung, dan penggunaan tanda baca. Tapi tidak jarang kita jumpai kalimat yang tata bahasanya ngawur dalam surat edaran resmi setingkat perguruan tinggi atau bahkan kementerian.

Di sisi lain, belajar bahasa asing khususnya Bahasa Inggris itu sangat penting. Tapi haruskah penggunaannya dicampur-campur dengan bahasa Indonesia? Pada suasana informal, mungkin tidak terlalu masalah. Misalnya ngobrol dengan teman, komentar di media sosial, dan sebagainya. Tapi bagaimana dengan forum yang efek edukasinya pada masyarakat lebih luas? Berapa kali Anda mendengar pewarta berita menggunakan kalimat yang secara tata bahasa tidak benar?

Acara masak seperti yang saya tonton itu mungkin juga tergolong kasual. Tapi imbasnya bagi masyarakat cukup besar. Kita jadi tidak dipaksakan untuk berbahasa dengan benar. Malah dibiasakan pada persepsi bahwa berbahasa tanggung itu lebih keren. Lama-lama akibatnya terasa dalam dunia akademis. Kaum yang harusnya terpelajar seperti mahasiswa sampai guru besar universitas masih banyak yang tidak dapat menulis dalam Bahasa Indonesia yang baku, baik, dan benar. Saya jadi ingat, waktu sekolah dulu pun, nilai rapor saya untuk Bahasa Indonesia tidak pernah lebih tinggi daripada Bahasa Inggris karena aturannya kurang konsisten dan lebih sulit diterapkan dalam penggunaan sehari-hari. Mungkin pembaca bisa berbaik hati membantu saya mengoreksi kesalahan tata bahasa dalam artikel ini.

Kecintaan seseorang terhadap bangsanya dimulai dari hal-hal kecil. Saya rasa ada baiknya kita mulai mencoba berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Setidaknya dalam dunia tulis menulis. Mudah-mudahan dengan begitu, nasionalisme bangsa Indonesia bisa tumbuh lebih besar dan lebih kuat.

Categories: Daily Rambler, Occasional Writer | Tags: | 1 Comment

Republik Fotokopi Rangkap Tiga

Beberapa tahun terakhir ini saya banyak berurusan dengan birokrasi intansi pemerintahan. Mulai dari mengurus surat izin praktik (SIP) dokter, kunjungan puskesmas, perpanjangan paspor, sampai izin mendirikan bangunan (IMB).

Pelajaran yang dapat dipetik adalah:

Image

Birokrasi kita memang terkenal “ribet”. Jangan salah. Saya sering dilayani oleh petugas yang baik dan cekatan, tapi memang sistemnya mengharuskan kita bolak-balik ke kantor kelurahan/kecamatan/walikota/dsb untuk mengurus dokumen yang biasanya diproses secara manual atau dengan sistem online setengah matang. Saya paham bahwa birokrasi itu dibuat demi keteraturan. Jadi kalau segala keribetan itu mampu menghasilkan lebih banyak manfaat daripada mudaratnya, masih bisa diterima.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, keribetan ini, selain memakan waktu, juga tidak ramah lingkungan. Bolak-balik mengurus dokumen dengan kendaraan bermotor tentu menambah polusi. Istilahnya: eco-mudarat. Selain polusi, ada aspek lain yang lebih menarik sini. Yaitu kecenderungan menggunakan kertas.

Berdasarkan pengalaman pribadi, inilah kalimat-kalimat yang paling khas dari petugas instansi pemerintahan:

Image

Sedikit-sedikit fotokopi. Buat arsip ini buat arsip itu. Semuanya harus pakai kertas. Kertas. Kertas. Kertas.

Aneh sekali. Seperti kaum yang tidak tersentuh teknologi. Kalau masalahnya menjaga otentisitas dokumen, email attachment lebih tidak bisa diutak-atik. Kalau butuh salinan, kenapa tidak disimpan dalam bentuk softcopy PDF yang siap cetak? Memangnya seberapa sering kita butuh melihat salinan arsip? Kalau memang takut hilang karena diretas orang jahat, ya sekarang tumpukan kertas arsip itu juga rentan hilang, terendam banjir, kebakaran, atau dikencingi tikus.

Ketika dunia sudah semakin sadar akan kebijakan paperless sebagai salah satu upaya melestarikan lingkungan (lihat catatan Greenpeace tentang resolusi hijau tahun 2014), saya lihat pemerintah masih belum bisa menjadi teladan warga untuk menerapkan perilaku go green. Efeknya, masyarakat jadi tidak terbiasa mengasosiasikan perilaku sehari-hari dengan nasib hutan kita. Kita sering lupa bahwa bahan baku utama kertas dan tisu adalah kayu-kayu berkualitas serat tinggi seperti ramin yang juga berasal dari hutan Indonesia.*

Bagi sebagian besar kita, sepertinya tidak ada masalah dengan itu semua. Kita toh tidak membakar hutan, tidak melakukan illegal logging, tidak membuka lahan sawit. Kita hanya ngeprint, fotokopi, ngeprint, fotokopi. Paling berapa lembar sih?

Tidak banyak memang. Tapi semakin banyak orang yang berpikir demikian, semakin besar kebutuhan akan kertas, dan semakin banyak pohon yang harus ditebang. Nah, masalahnya, tidak semua produsen kertas menerapkan sistem yang forest-friendly.

***

Mulai dari hal kecil. Semampu kita.

Sebetulnya tidak perlu menunggu pemerintah untuk melakukan hal-hal yang baik. Kita bisa selalu mulai dengan hal-hal kecil, dari diri sendiri. Klise, tapi itu benar. Dalam hal pelestarian bumi, selalu ada kontribusi seremeh apa pun yang dapat kita berikan. Terkait pelestarian hutan, mungkin kita tidak dalam posisi yang berwenang untuk melakukan reboisasi, tebang pilih, atau memantau kinerja produsen pulp. Namun masih ada cara lain yang lebih mudah dilakukan. Di antaranya dengan menghemat penggunaan kertas dan produk-produk kayu, tak peduli dari perusahaan mana ia berasal. Misalnya:

  • Kalau membuat tugas kuliah, cetaklah pada kedua sisi halamannya. Apalagi kalau masih draf. Selain lebih murah, juga supaya tidak miris kalau berakhir demikian:

Image

  • Untuk pekerjaan sehari-hari, gunakan kertas bekas yang hanya terpakai pada satu sisinya untuk mencetak dokumen informal. Bahkan jika tidak perlu sekali, tidak usahlah dicetak segala. Optimalkan fungsi tablet. Jangan hanya untuk main flepi bird.
  • Kurangi pemakaian produk kayu lain seperti kantong, tisu, dan sumpit sekali pakai. Sering kali karena gratis, kita diberi atau bahkan meminta tambahan sumpit atau tisu di restoran, yang ternyata tidak dipakai.
  • Menularkan kesadaran itu ke lingkungan sekitar kita. Bisa ke orang-orang terdekat atau lewat sosial media. Banyak orang yang merusak lingkungan bukan karena mereka ingin, namun karena mereka tidak sadar. Misalnya dengan ikut lomba blog Hutan Kita dengan tema Protect Paradise dari Greenpeace ini. Hampir tidak keluar biaya dan kalau menang hadiahnya jalan-jalan ke hutan ketemu monyet! 😀

Kita tidak bisa hidup tanpa kertas. Yang bisa kita lakukan adalah menggunakannya dengan bijak. Poin-poin di atas sudah bukan barang baru. Tapi entah kenapa belum semua orang mengamalkannya.

Tidak perlu menunggu pemerintah. Tidak perlu menunggu siapa-siapa. Mungkin kita ragu bahwa aksi kecil kita ini akan ada gunanya. Tapi saya percaya bahwa akumulasi hal-hal kecil dapat menghasilkan sesuatu yang besar. Dan jika hal kecil itu bisa menyelamatkan hutan kita, apa alasan kita tidak melakukannya? 🙂

 

 

 

 

*) Untuk informasi lebih lengkap, silakan kunjungi website Greenpeace atau klik link berikut.

http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/melindungi-hutan-alam-terakhir/app1/ramin/

http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/resolusi-hijau-untuk-tahun-baru-2014/blog/47794/

http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/APP-kertas-moratorium/blog/40593/

Categories: Daily Rambler, Occasional Writer | Tags: , , | 3 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.