Posts Tagged With: Hutan Kita

Republik Fotokopi Rangkap Tiga

Beberapa tahun terakhir ini saya banyak berurusan dengan birokrasi intansi pemerintahan. Mulai dari mengurus surat izin praktik (SIP) dokter, kunjungan puskesmas, perpanjangan paspor, sampai izin mendirikan bangunan (IMB).

Pelajaran yang dapat dipetik adalah:

Image

Birokrasi kita memang terkenal “ribet”. Jangan salah. Saya sering dilayani oleh petugas yang baik dan cekatan, tapi memang sistemnya mengharuskan kita bolak-balik ke kantor kelurahan/kecamatan/walikota/dsb untuk mengurus dokumen yang biasanya diproses secara manual atau dengan sistem online setengah matang. Saya paham bahwa birokrasi itu dibuat demi keteraturan. Jadi kalau segala keribetan itu mampu menghasilkan lebih banyak manfaat daripada mudaratnya, masih bisa diterima.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, keribetan ini, selain memakan waktu, juga tidak ramah lingkungan. Bolak-balik mengurus dokumen dengan kendaraan bermotor tentu menambah polusi. Istilahnya: eco-mudarat. Selain polusi, ada aspek lain yang lebih menarik sini. Yaitu kecenderungan menggunakan kertas.

Berdasarkan pengalaman pribadi, inilah kalimat-kalimat yang paling khas dari petugas instansi pemerintahan:

Image

Sedikit-sedikit fotokopi. Buat arsip ini buat arsip itu. Semuanya harus pakai kertas. Kertas. Kertas. Kertas.

Aneh sekali. Seperti kaum yang tidak tersentuh teknologi. Kalau masalahnya menjaga otentisitas dokumen, email attachment lebih tidak bisa diutak-atik. Kalau butuh salinan, kenapa tidak disimpan dalam bentuk softcopy PDF yang siap cetak? Memangnya seberapa sering kita butuh melihat salinan arsip? Kalau memang takut hilang karena diretas orang jahat, ya sekarang tumpukan kertas arsip itu juga rentan hilang, terendam banjir, kebakaran, atau dikencingi tikus.

Ketika dunia sudah semakin sadar akan kebijakan paperless sebagai salah satu upaya melestarikan lingkungan (lihat catatan Greenpeace tentang resolusi hijau tahun 2014), saya lihat pemerintah masih belum bisa menjadi teladan warga untuk menerapkan perilaku go green. Efeknya, masyarakat jadi tidak terbiasa mengasosiasikan perilaku sehari-hari dengan nasib hutan kita. Kita sering lupa bahwa bahan baku utama kertas dan tisu adalah kayu-kayu berkualitas serat tinggi seperti ramin yang juga berasal dari hutan Indonesia.*

Bagi sebagian besar kita, sepertinya tidak ada masalah dengan itu semua. Kita toh tidak membakar hutan, tidak melakukan illegal logging, tidak membuka lahan sawit. Kita hanya ngeprint, fotokopi, ngeprint, fotokopi. Paling berapa lembar sih?

Tidak banyak memang. Tapi semakin banyak orang yang berpikir demikian, semakin besar kebutuhan akan kertas, dan semakin banyak pohon yang harus ditebang. Nah, masalahnya, tidak semua produsen kertas menerapkan sistem yang forest-friendly.

***

Mulai dari hal kecil. Semampu kita.

Sebetulnya tidak perlu menunggu pemerintah untuk melakukan hal-hal yang baik. Kita bisa selalu mulai dengan hal-hal kecil, dari diri sendiri. Klise, tapi itu benar. Dalam hal pelestarian bumi, selalu ada kontribusi seremeh apa pun yang dapat kita berikan. Terkait pelestarian hutan, mungkin kita tidak dalam posisi yang berwenang untuk melakukan reboisasi, tebang pilih, atau memantau kinerja produsen pulp. Namun masih ada cara lain yang lebih mudah dilakukan. Di antaranya dengan menghemat penggunaan kertas dan produk-produk kayu, tak peduli dari perusahaan mana ia berasal. Misalnya:

  • Kalau membuat tugas kuliah, cetaklah pada kedua sisi halamannya. Apalagi kalau masih draf. Selain lebih murah, juga supaya tidak miris kalau berakhir demikian:

Image

  • Untuk pekerjaan sehari-hari, gunakan kertas bekas yang hanya terpakai pada satu sisinya untuk mencetak dokumen informal. Bahkan jika tidak perlu sekali, tidak usahlah dicetak segala. Optimalkan fungsi tablet. Jangan hanya untuk main flepi bird.
  • Kurangi pemakaian produk kayu lain seperti kantong, tisu, dan sumpit sekali pakai. Sering kali karena gratis, kita diberi atau bahkan meminta tambahan sumpit atau tisu di restoran, yang ternyata tidak dipakai.
  • Menularkan kesadaran itu ke lingkungan sekitar kita. Bisa ke orang-orang terdekat atau lewat sosial media. Banyak orang yang merusak lingkungan bukan karena mereka ingin, namun karena mereka tidak sadar. Misalnya dengan ikut lomba blog Hutan Kita dengan tema Protect Paradise dari Greenpeace ini. Hampir tidak keluar biaya dan kalau menang hadiahnya jalan-jalan ke hutan ketemu monyet! 😀

Kita tidak bisa hidup tanpa kertas. Yang bisa kita lakukan adalah menggunakannya dengan bijak. Poin-poin di atas sudah bukan barang baru. Tapi entah kenapa belum semua orang mengamalkannya.

Tidak perlu menunggu pemerintah. Tidak perlu menunggu siapa-siapa. Mungkin kita ragu bahwa aksi kecil kita ini akan ada gunanya. Tapi saya percaya bahwa akumulasi hal-hal kecil dapat menghasilkan sesuatu yang besar. Dan jika hal kecil itu bisa menyelamatkan hutan kita, apa alasan kita tidak melakukannya? 🙂

 

 

 

 

*) Untuk informasi lebih lengkap, silakan kunjungi website Greenpeace atau klik link berikut.

http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/melindungi-hutan-alam-terakhir/app1/ramin/

http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/resolusi-hijau-untuk-tahun-baru-2014/blog/47794/

http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/APP-kertas-moratorium/blog/40593/

Categories: Daily Rambler, Occasional Writer | Tags: , , | 3 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.